APITAN / SEDEKAH BUMI DESA TURIREJO

Demak – Acara Apitan atau yang lebih dikenal dengan istilah sedekah bumi mungkin bagi kalangan masyarakat jawa merupakan hal yang lumrah dan biasa, dikarenakan ritual tersebut dilakukan setiap tahun, tepatnya dibulan Apit dalam kalender aboge, atau bertepatan dengan bulan dzulqo’dah dalam penanggalan hijriyah. acara¬† apitan / sedekah bumi ini dilaksanakan di Desa Turirejo Kamis (4/7), acara dimulai pukul 17.00 WIB masyarakat membawa hajatan untuk dibagi-bagikan atau saling bertukar hajatan yang dibawa.

kemudian puncak acara apitan berlangsung pada pukul 21.00 WIB dengan menampilkan wayang golek untuk hiburan masyarakat dengan Lakon Wahyu Tri Margo Joyo dan dimeriahkan oleh Dalang Ki Sutiyo Dari Jepara. Tradisi ini tidak jelas siapa yang memulai, namun diyakini mulai dikenalkan pada masa penyebaran Islam di Tanah Jawa oleh para Wali Sembilan sekitar 500 tahun yang lampau. Dengan memodifikasi tradisi hindu yang telah ada sebelumnya, para wali memasukkan unsur religius keislaman pada setiap budaya tanpa menghapus sisi eksotik dan estetika itu sendiri. Hal ini tergolong manjur dan efektif sehingga para masyarakat jawa berbondong-bondong mengikrarkan diri untuk memeluk islam.

Kembali ke apitan atau sedekah bumi memiliki makna yang sangat dalam yakni sebagai wujud ungkapan syukur warga terhadap nikmat yang telah diberikan tuhan YME. Lalu, kenapa harus bumi? Makna filosofisnya adalah manusia tercipta dari tanah yang merupakan bagian dari unsur bumi, kemudian hidup juga di atas bumi, makan dan minum dari tetumbuhan juga makhluk yang mengkonsumsi unsur tanah, dan kelak saat manusia itu matipun akan kembali ke bumi.

Sehingga perlu keselarasan dan harmoni antara manusia dengan bumi sebagai ruang yang ditinggali manusia itu sendiri. Sedekah bumi dan apitan menjadi sarana syukur terhadap limpahan nikmat atas hasil bumi, hasil panen masyarakat selama setahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *